Cari Blog Ini

Melati malam

Aku temui hujan dibulan November kemarin, sebagai awal membuka pintu disambut dingin, disaat mata baru terbuka melihat hari, mengabadikan kenangan untuk segera membuku agar kututup dan kukubur dalam tanah dilembah terendah didasar laut mati. Aku tidak akan bercerita tentang gelapnya malam seperti orang-orang ceritakan. Karena aku lebih tertarik untuk mendekat dan bercerita dengan alam, sebagai rasa terimakasihku sudah membagikan nafasnya ke dinding paru-paruku. Seruling wewangi muncul dipucuk malam cukup untuk menampari setiap kesepian berlabuh disini. Bunga melati dibelakang rumah sudah mengawali perbincanganku malam itu, wanginya mendekat setiap datang diwaktu petang, sesaat sebelum aku mengucapkan salam. Seandainya aku mampu saat itu berdiri kembali ke era 90an sekedar menanam bunga ini pastilah lupa akan kematian hati didalam diri para tentara di daratan sarajevo bisa melupakan semua perbedaan etnis agar damai itu tidak samar-samar hanya sebayang, atau mungkin diberi kesempatan untuk ke Gaza setidaknya menghilangkan rasa was-was dan menutup manusia menjadi obat haus untuk kebencian terhadap islam diatas tanah yang dijanjikan menurut mereka. Saat-saat seperti itulah muara kerinduan itu terpendam, wangi melati yang membawa jiwa ke lantai mengajak dansa dengan harapan terus ada sampai bisa dibawah surya. Kisah dari sebumbung rasa didalam diriku sengaja tersambung menunggu tanpa ada ruang bosan disaat dansa ber-temakan musik wewangian melati, mengalahkan nada sebuah biola. itulah satu hal dalam kata menunggu yang tidak akan membosankan yaitu menunggu sembari menulis, demi kata-kata tertulis mencairkan cerita membiarkan halaman hati membersih tanpa ada corak-corak tanah tercakar. Setidaknya diriku telah berhasil untuk mengabadikan atas apa dalam hati, membiarkan semua mengalir menjaga agar tidak membeku dan menjadi tangis.
Jiwa membayangkan hujan saat ini karena imajinasi yang telah lama memendung, berharap awan hitamnya luntur setelah hujan, karena Aku mengurung rindu malah terbakar. Sebuah kediaman saat pergi itu bersalam, memamah pagi menjadi duri memamah malam menjadi sakit, disaat apa yang tidak ingin ku bayangkan itu hadir. Saat ini tinggalah Aku dengan waktu membuat jalan yang hilang kembali menjadi ada, membayangkan hujan, disaat ini Aku tersenyum sedikit tersibak rindu dimasa kecil jika membayangkan hujan, saat berlari-lari dan bermain menendang bola ditengah pestanya hujan, sampai derasnya sedikit meredam setiap teriakan riang kami, disaat masuk ke gawang lawan ataupun sekedar menertawakan anak-anak lain yang terjatuh bergelimangan air di lapang yang berkubang. yang ditutup dengan marahan orang tua setelah aku pulang, yang tidak jarang menyisakan demam tinggi setelah bermain dengan hujan. Itulah sebuah kenangan yang menyisakan cerita.
Kata-kata keluar dari mulut secara tiba-tiba disaat ini kata-kata yang memudarkan bayangan kecilku, "Cinta adalah hidupku untuk berbagi" iya, itu kata hati, Aku menyudahinya pada waktu itu juga, sudahlah itu hanya sedikit dari gubahan misteri sempurna tanpa tertebak hanya bisa dirasa dan dijalani yang pasti akan berjalan ditemani waktu. Aku menyudahkan diri berdiagnosa dalam hal ini dengan meminta sekecup rasa kepada Pencipta untuk ku jadikan sebagai payung untuk melanjutkan berjalan memenuhi tujuan agar tidak membasah dikala hujan, setidaknya bisa sedikit aku tawar tanpa membiarkan diri membasah disaat waktu dan sikap kekuatan diri terbatas. 
Jikalah memang benar atas apa yang berhasil aku tebak saat ini, mungkin selamanya Aku tidak akan merasa sendiri, dimesranya kesendirian dijebak waktu yang melalaikan tanpa bisa menyapu setiap duka dalam menguraikan bebisuan. Aku tidak memaksakan untuk menjadi sudah terhadap sesuatu sebelum itu terjadi, pastilah ada cara untuk bisa menjaring awan. Aku yakin tentang alam yang sengaja mewakilkan pikirku di akhir-akhir ini disarat bicaranya atas cuaca mendinginn. Terimakasih melati malam untuk bulan november menjadi lebih berarti. Memilih hidup berteman dengan alam tidaklah salah agar saling menjaga dan terjaga, satu kata seimbang agar hari semakin jauh dengan batas. Tetaplah menjadi melati malam disishku walaupun tidak terlihat bentukmu tetapi aku bisa merasakan dirimu berbagi rasa denganku disini. Aku suka disaat kamu bermain dengan wewangian yang tersebar. Putihmu indah wangimu anugrah dan pengorbananmu adalah kejujuranmu.

2 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini